Tren Membaca Buku Digital (E-Book) di Kalangan Remaja Dewasa Ini


Tren Membaca Buku Digital (E-Book) di Kalangan Remaja Dewasa Ini

Oleh Susandi


Pendahuluan

Membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan dan bukan keterampilan bawaan. Oleh karena itu, kebiasaan membaca dapat dipupuk, dibina dan dikembangkan. Di negara berkembang membaca dimanfaatkan untuk memenuhi tuntutan kurikulum sekolah atau perguruan tinggi. Buku sebagai media transformasi dan penyebarluasan ilmu dapat menembus batas-batas geografis suatu negara, sehingga ilmu pengetahuan dapat dikomunikasikan dan digunakan dengan cepat di berbagai belahan dunia. Semakin banyak membaca buku, semakin bertambah wawasan kita terhadap permasalahan di dunia. Karena itulah buku disebut sebagai jendela dunia.

Membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan. Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.

Di Negara-negara maju, masyarakat telah sadar dengan sendirinya akan pentingnya budaya membaca buku untuk mendapatkan informasi. Namun lain halnya di Indonesia, anak Indonesia memiliki kecenderungan jauh dari dunia aksara. Budaya membaca dan menulis terus tersisihkan oleh banyaknya tawaran teknologi digital dan audio visual yang jauh lebih menarik. Belum lagi, tuntutan belajar yang dibebankan kepada si anak. “Mana sempat”, begitu alasan mereka. Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi hampir di seluruh sendi kemasyarakatan. Masyarakat miskin sekalipun lebih memilih membeli hp atau televisi daripada membeli buku.

Tren Membaca Buku Digital (E-Book)

Di Indonesia, penelitian dalam bidang membaca belum begitu banyak dilakukan. Oleh karena itu, teori membaca juga belum banyak dikembangkan. Kebiasaan membaca pada masyarakat umum juga rendah. Salah satu indikatornya adalah jumlah buku dan surat kabar yang dikonsumsi oleh masyarakat. Menurut Syafik Umar dalam harian Pikiran Rakyat (2004), “Idealnya setiap surat kabar dikonsumsi sepuluh orang, tetapi di Indonesia angkanya 1:45; artinya setiap 45 orang mengonsumsi satu surat kabar. Di Filipina angkanya 1:30 dan di Sri Lanka angkanya 1:38. Artinya dalam soal membaca, masyarakat kita kalah dibandingkan dengan masyarakat negara berkembang lainnya seperti Filipina dan bahkan dengan masyarakat negara belum maju seperti Sri Lanka”.

Secara langsung maupun tidak langsung kebiasaan membaca menjadi salah satu indikator kualitas bangsa. Angka melek huruf (literacy rate) di Indonesia relatif belum tinggi, yaitu 88 persen. Di negara maju seperti Jepang angkanya sudah mencapai 99 persen. Sebagian dari penduduk yang tidak memiliki kebiasan membaca secara memadai sangat berpotensi untuk mengurangi angka melek huruf tersebut.

Laporan tersebut sejalan dengan yang dikemukakan Prof. Darmiyati Zuchdi, Ed.D., guru besar Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta, dalam buku Strategi Meningkatkan Kemampuan Membaca tahun 2008 bahwa kenyataan rendahnya kemampuan dalam bidang membaca menimbulkan dampak yang tidak menggembirakan pada pembelajaran membaca di sekolah …. Beberapa masalah yang ditemukan pun tidak dapat diatasi secara baik karena tidak adanya program remedial yang sistematis dengan mempertimbangkan perbedaan masalah secara individual. Akibatnya, kebanyakan mereka yang telah tamat pendidikan menengah bahkan perguruan tinggi, apabila diminta membaca dengan kecepatan normal hanya mampu mencapai komprehensi yang rendah atau menggunakan waktu terlalu lama untuk dapat memahami bahan bacaan secara baik.

Selain hal tersebut, tren membaca buku di kalangan remaja Indonesia juga berpengaruh terhadap perilaku membaca. Tren membaca buku saat ini telah berubah seiring dengan perubahan teknologi. Buku digital (EBook) merupakan salah satu tren bacaan remaja saat ini. Transformasi dari buku cetak menuju ke bentuk digital yang ditampilkan melalui media internet memudahkan pembaca dalam mencari informasi yang tersedia.

Buku digital di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini didasari oleh content dan tampilan yang dimiliki buku digital cukup interaktif sehingga remaja lebih tertarik menggunakan buku digital. Harga yang relatif lebih murah, praktis, dan menyenangkan untuk dibaca juga menjadi pertimbangan remaja dalam memilih buku digital sebagai bahan bacaannya. Remaja sebagai konsumen, menganggap transformasi dalam pemasaran buku cetak ke bentuk digital merupakan sesuatu yang menarik. Sebelum adanya buku digital mereka harus membeli buku cetak dengan harga relatif mahal dan terkadang kurang menarik. Buku cetak yang dijual di pasaran biasanya dikemas dengan plastik transparan sehingga kita tidak bisa melihat isi buku yang dibeli dan terkadang muncul kekecewaan jika isi buku tersebut tidak sesuai dengan apa yang ada di benak mereka.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan apabila kita berbicara mengenai tren membaca buku digital di kalangan remaja. Pertama, jenis buku yang menjadi minat mereka. Berdasarkan pengamatan empirik, remaja lebih cenderung suka membaca buku digital yang berkaitan dengan usia dan kehidupan mereka, seperti buku ilmu pengetahuan (ensiklopedia, seratus tokoh berpengaruh, dll.). Selain itu, remaja lebih tertarik untuk membaca buku digital yang memiliki gambar yang menarik dengan teks yang mudah dipahami, contohnya buku komik digital.

Kedua, yang menjadi tren membaca buku digital di kalangan remaja adalah bentuk buku yang dibaca. Saya sangat setuju bahwa tren dan minat membaca remaja sekarang lebih terarah kepada sesuatu yang bersifat teknologi dan komunikasi (ICT). Kita harus melihat hal ini sebagai sesuatu yang positif seiring kemajuan teknologi yang tersedia. Seperti kita ketahui juga bahwa buku digital tidak memakai media kertas, sehingga penebangan kayu dapat diminimalisir dan sumber daya alam yang langka ini dapat tetap dijaga, sehingga kita ikut terlibat dalam memperhatikan global warming.

Penutup

Kebiasaan membaca harus dipupuk sejak dini. Semakin awal seseorang menyadari manfaat membaca, maka akan semakin menguntungkan dirinya. Manfaat membaca sangat banyak, di antaranya adalah untuk menambah pengetahuan, meningkatkan kemampuan berpikir otak, dan bisa juga sebagai hiburan yang bermanfaat dan bernilai tinggi. Karena itu, setiap orang terutama remaja harus senantiasa meningkatkan minat baca dan membaca buku secara teratur. Budaya membaca yang tinggi merupakan cermin kemajuan suatu bangsa. Bangsa atau masyarakat yang maju akan selalu menempatkan kebiasaan membaca sebagai salah satu kebutuhan hidupnya sehingga tercipta masyarakat yang senang membaca (reading society). Masyarakat yang gemar membaca pada dasarnya adalah masyarakat yang belajar (learning society).

Saat ini berbagai gerakan sosial yang mendorong budaya keberaksaraan (literacy) mulai muncul di negeri ini seperti Indonesia Membaca, Gerakan Wakaf Buku, dan Kembali ke Perpustakaan. Perlu diingat bahwa, belajar mandiri (self education) adalah ciri khas belajar abad ke-21. Salah satunya dengan memanfaatkan waktu yang tersisa baik di perpustakaan maupun internet.

Iklan

2 Komentar

  1. E-BOOK MANFAAT DAN CARA PEMBUATANNYA « Septianwelly's Blog said,

    […] diakases pada Rabu 27 Juli 2011) 4. 2011, Tren Membaca Buku Digital, […]

  2. andre said,

    saya setuju kalau warga indonesia suka membaca apa lagi kalau pelajarnya suka membaca jangan sering demo yang tidak penting…..yang penting hasil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: